Timun Mas & Buto Ijo

cerita rakyat folktake Jawa Tengah Indonesia


Sepasang suami istri menjalani hidup berdua.

Mereka menanti, terus menanti, dan terus menanti.

Sayang, anak yang mereka dambakan tak kunjung datang.

Kini, mereka keriput dan beruban, tapi mereka masih menginginkan anak.

cerita rakyat folktale Jawa Tengah Indonesia


Suatu ketika, Buto Ijo berbisik dari balik rimbun hutan bambu.

“Sstt... Ku dengar kalian ingin punya anak. Tanamlah benih mentimun ajaib ini. Kalian akan mendapatkan anak yang kalian inginkan. Tapi, jangan lupa. Saat usianya satu tahun, anak itu akan aku jemput.”

Sang istri menerima benih dengan suka cita sementara sang suami gemetaran mendengar bisikan Buto Ijo.

Benih tersebut ditanam, tumbuhlah akar. Kemudian, daun-daun bermunculan. Bunga kuning berkembang dan berubah menjadi buah mentimun berwarna emas.

Betapa terkejutnya suami istri tersebut saat membelah mentimun emas. Saat melihat bayi mungil di dalamnya, suami istri itu tidak bisa menahan haru.

Anak dari dalam mentimun itu kemudian diberi nama Timun Mas.

cerita rakyat folktale Jawa Tengah Indonesia


Timun Mas sudah berusia satu tahun.

“ Sstt... Sembunyi, Timun Mas,” kata mereka.

Buto Ijo menepati janji. Ia hendak menjemput Timun Mas, tapi sang istri memintanya datang satu tahun lagi. Ia akan menggemukkan Timun Mas dulu katanya.

Buto Ijo setuju.

Akan tetapi, saat Buto Ijo datang lagi, Timun Mas tak muncul. Tahun berikut dan berikutnya pun Timun Mas tak pernah menampakkan batang hidung.

“Kalau satu minggu lagi, Timun Mas tak kalian berikan, akan ku obrak-abrik rumah dan desa kalian,” ancam Buto Ijo geram.

cerita rakyat Folktale Jawa Tengah Indonesia


Sepasang suami-istri itu ketakutan.

Timun Mas kini sudah besar. Mereka menyuruh Timun Mas melarikan diri berbekal tiga bungkusan kecil.

“Berangkat!” kata Timun Mas.

Dum! Dum! Dum!
Tanah bergetar.

cerita rakyat folktale Jawa Tengah Indonesia


Timun Mas berlari lima langkah. Buto Ijo berjalan satu langkah. Jarak semakin dipangkas.

Timun Mas melontarkan bungkusan pertama ke arah Buto Ijo.
Biji mentimun bertaburan dan tumbuh menjadi ladang mentimun yang lebat.
“Wah! Aku suka mentimun,” kata Buto Ijo girang. “Ah, tapi aku harus mengejar Timun Mas.”
Buto Ijo melupakan buah-buah mentimun kesukaannya.

Timun Mas melontarkan bungkusan kedua.
Jarum jatuh ke tanah dan berubah menjadi hutan bambu berduri.
“Aduh! Aku tertusuk,” teriak Buto Ijo. “Ah, tapi aku harus mengejar Timun Mas.”
Ia mengarungi tusukan duri sambil mengaduh.

Timun Mas melontarkan bungkusan ketiga.
Terasi terlempar ke kaki Buto Ijo dan mengubah tanah menjadi lumpur isap.
“Oh, tidak! Aku tidak bisa bergerak, “ ujar Buto Ijo. “Toloooong...”

Buto Ijo pun tak bisa lagi mengejar Timun Mas.

- Tamat -

Komentar