4 Sayur Hasil Rambanan Penuh Kenangan dari Hutan

Saat tahu WALHI dan Blogger Perempuan mengadakan kompetisi blog tentang hutan sebagai sumber pangan, angan saya langsung melesat ke masakan sayur-mayur di masa kecil saya. Keluarga saya tinggal di desa di kaki Gunung Sumbing dan orang-orang desa kami cukup akrab dengan sayur-mayur yang diambil dari hutan.

Makanan desa hasil foraging sayur rebus ikan asin sambal tomat

Entah istilah hutan ini patut saya pakai atau tidak karena dalam bahasa kami, bahasa Jawa, hutan adalah alas. Istilah ngalas (pergi ke alas) selalu digunakan tak hanya ketika akan pergi ke hutan, melainkan juga saat akan pergi ke kebun, ladang, atau sawah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman.

Tak ada yang menanam sayur-mayur ini, bahkan si empunya lahan. Sayur-mayur ini tumbuh semaunya untuk diambil dan dimasak sesuai selera lidah desa kami. Baru-baru ini saya mengikuti kelas foraging online. Foraging atau meramban yang akhir-akhir ini ngetren rupanya bukan hal yang sama sekali baru bagi orang-orang desa kami.

Sayur-mayur hasil foraging ini boleh jadi merupakan pangan dari hutan yang mengisi rak memori yang membangun konsep rasa di lidah saya saat ini.

Foraging daun kimpul jangan lumbu
Sumber: http://aksi.id/mobile/artikel/37088/-Ini-9-Khasiat-Menakjubkan-Konsumsi-Daun-Talas/

Daun Kimpul
Kami menyebutnya godhong lumbu. Nama ilimiahnya Xanthosoma sagittifolia. Umbi kimpul enak dikukus, dikeripik, atau dibuat gethuk, tapi daunnya adalah berkah di musim penghujan. Daun kimpul yang masih muda dikumpulkan dan dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih, cabe rawit, dan kencur. Tak lupa teri dan parutan kelapa ditambahkan ke dalam tumisan. Kami menyebutnya jangan lumbu. Jika tak ahli dalam memasaknya, sensasi gatal tertinggal di kerongkongan setelah makan masakan ini. Akan tetapi, jangan lumbu adalah satu masakan kampung yang jarang saya temui di tempat lain.

Foraging daun tumbaran urap kluban sawah nasi jagung
Sumber: https://gramho.com/media/2028460840629520226

Tumbaran.
Galinsoga parviflora adalah nama Latin tumbuhan ini. Kami mengenalnya sebagai kluban sawah (sayur sawah). Saat tepat untuk meramban sayuran ini adalah setelah masa panen tiba. Setelah panen, ladang atau sawah biasanya dibiarkan beberapa waktu hingga masa tanam berikutnya. Saat itu, tumbaran merdeka tumbuh dan kami bisa menikmatinya lezatnya daun tumbaran rebus yang diurap. Urap daun tumbaran menjadi pelengkap favorit dalam menu nasi jagung bersama sambal terasi dan peyek ikan asin.

foraging sintrong junggul nasi jagung urap

Sintrong
Saya berkenalan dengan sintrong untuk pertama kalinya di Jember. Warga lokal menyebutnya sebagai junggul. Tumbuhan bernama ilmiah Crassocephalum crepidioides bermunculan di tepi jalan, kebun, dan ladang setelah hujan mengguyur.
Tekstur junggul yang lembut setelah direbus dan aromanya yang khas membuat sayur ini disukai sebagai menu kulupan (sayur rebus) yang biasanya dilengkapi dengan sambal dan lauk. Kalau sedang musim, junggul juga menjadi pelengkap menu nasi jagung khas Jawa Timur.

Foraging daun ranti kulupan sambal ikan asin ranu pane gunung semeru
Sumber: https://www.bengkuluinteraktif.com/pucuk-lumai-simak-10-manfaatnya

Daun Ranti
Ranti atau Solanum americanum sebenarnya bukan tumbuhan baru untuk saya. Buahnya yang berwarna ungu gelap seperti anggur mungil saat matang kadang saya makan saat ngalas. Saya baru tahu saat mampir di Ranu Pane di kaki Gunung Semeru bahwa daun ranti bisa dikonsumsi. Waktu itu daun mudanya direbus dan disajikan bersama sambal dan ikan asin. Mengingat momen makan menu daun ranti sembari mengelilingi tungku di tengah dinginnya suhu Ranu Pane membuat air liur saya otomatis meleleh.

Kalau dipikir-pikir, alam sebenarnya sudah menyediakan banyak bahan pangan lezat yang bisa kita ramban. Selanjutnya, saya mungkin akan berbagi mengenai buah yang bisa jadi pencuci mulut (atau makanan pembuka jika ingin menikmati buah dengan benar) dari hutan.

Komentar

  1. Daun kimpul itu aku baru tau bisa diolah. Cuma emang bener bikin gatal. Kalo kena daunnya itu lumayan. Kirain si daun ini cuma rumput biasa ternyata bisa diolah. Terima kasih infonyaa

    BalasHapus

Posting Komentar