Katanya buku itu jendela dunia. Anak-anak bisa bertualang keliling dunia dengan membaca buku. Namun, bagaimana kalau tidak bisa membaca? Bagaimana kalau tidak punya akses ke buku untuk dibaca?
Sekitar empat tahun lalu, inilah yang terjadi di Dusun Sumber Candik di lereng selatan Gunung Argopuro, Jember. Waktu itu, banyak orangtua yang masih belum bisa membaca huruf latin. Anak-anak belajar di sekolah formal, tapi perkembangan kemampuan membaca mereka sangat lambat. Mereka berangkat sekolah sesuka hati, demikian halnya dengan para guru. Hingga Sokola Kaki Gunung hadir di dusun tersebut.
Nak-anak dan orangtua sama-sama belajar membaca huruf latin dari para relawan. Setelah lancar, pelajaran mereka berlanjut ke literasi terapan agar mereka bisa menerapkan kemampuan baca-tulis dalam kehidupan sehari-hari. Idealnya budaya membaca diajarkan oleh orangtua atau sekolah. Sayangnya, nak-kanak Sumber Candik tidak bisa mendapatkan keistimewaan ini. Oleh sebab itu, Sokola Kaki Gunung juga berupaya membantu mereka dengan mendatangkan buku-buku anak bagus dan menunjukkan cara menikmati buku.

Tahun lalu saya beberapa bulan singgah di Sumber Candik dan ini adalah petualangan saya mengajak nak-kanak Sokola Kaki Gunung membaca menyenangkan agar mereka bisa bertualang ke dunia lain melalui buku. Kami mengadakan semacam pentas drama sederhana. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok. Salah satu anak menjadi narator yang membacakan buku dan sisanya memperagakan apa yang dibacakan oleh narator.
Akting nak-kanak di pentas drama ini pasti masih jauh dari para aktor film profesional dan bahkan dari seniman ludruk favorit mereka. Namun, usaha mereka berlatih, membuat kostum sederhana sendiri, dan menghias panggung patut diacungi jempol. Mereka bahkan membuat undangan sendiri untuk mengundang orangtua masing-masing untuk menyaksikan pentas. Hal yang paling penting adalah mereka bersenang-senang. Let's Read, Nak-Kanak!Bertualang ke Negeri Kelinci
Kelompok pertama, kelompok Teman Baik mendramakan buku berjudul Kisah Seekor Kelinci. Buku ini adalah semacam buku wajib untuk mendongeng atau membaca lantang yang sudah saya bawa ke mana-mana. Secara tidak langsung buku ini mengajarkan nak-kanak untuk bersyukur dengan cara penyampaian yang lucu.
Kelompok Teman Baik sendiri bisa dikatakan sebagai kelompok yang paling rajin berlatih. Petualangan kelinci untuk membuat rumahnya terasa lebih luas dimulai.Bertualang ke Negeri Pelan
Buku Kejutan Kungkang karya Andina Subarja adalah salah satu buku favorit nak-kanak. Ceritanya yang sederhana dan kata-katanya yang tidak banyak membuat nak-kanak percaya diri membaca bukunya keras-keras. Mereka bisa pamer (dalam arti yang positif) bahwa mereka bisa membaca buku salah satunya karena buku ini.
Buku ini menceritakan perjuangan kungkang yang pelan agar bisa tiba ke pesta ulang tahun temannya tepat waktu. Setelah membaca lantang buku ini berkali-kali, kelompok Teman Sejati berkesempatan mementaskannya dan bertualang sebagai kungkang yang sangat pelan.
Bertualang ke Negeri Sabar Menanti
Mungkin kelompok Teman Sahabat adalah kelompok yang paling drama bahkan sebelum pentas drama dimulai. Beberapa anak protes karena mereka dicuthat dari kelompok lain untuk membentuk kelompok baru bersama teman-teman yang tidak datang saat hari pembagian kelompok. Karena ada beberapa hewan dalam buku yang kurang familiar untuk mereka, hewan tersebut kemudian diganti dengan hewan-hewan yang lebih mereka kenal.
Pada hari H, pemeran Mister Panda, tokoh utama dalam buku ‘Aku akan Menunggu Mr Panda’ tidak datang. Untungnya, ada anak dari kelompok lain yang mau menggantikan. Petualangan menantang kesabaran di Pentas Drama Sokola Kaki Gunung pun berlanjut. Bisakah para hewan menunggu masakan Mister Panda tanpa banyak bertanya?
Sejauh ini, semua sumber buku bacaan nak-kanak Sumber Candik masih berupa buku fisik. Mengapa tidak baca buku online dari aplikasi Let’s Read waktu itu? Sejujurnya, saya sendiri masih agak ragu untuk memperkenalkan penggunaan gawai pada mereka mengingat penggunaan gawai masih sangat terbatas di sana. Gawai menyimpan banyak godaan dan saya khawatir nak-kanak terjerumus dalam godaan tersebut.
Akan tetapi, kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya saya bisa memanfaatkan aplikasi Let’s Read untuk menarik nak-kanak agar lebih rajin datang ke rumah belajar. Nak-kanak bisa bergiliran membacakan buku dari aplikasi ke teman-temannya. Saya rasa sesekali pegang gawai tidak akan berdampak buruk bagi mereka. Lagipula lebih banyak pilihan buku yang bisa mereka baca dengan tema dan latar budaya yang berbeda. Nak-kanak pasti senang.
Ah, tapi harus menunggu pandemi usai dulu baru bisa bermain bersama nak-kanak Sumber Candik lagi. Sembari menunggu, mari mengunduh aplikasi Let’s Read dulu.
seru ya kegiatan anak-anak Sumber Candik...semuanya suka baca..
BalasHapus